Kejadian 22:1-18
Dalam perikop ini Tuhan memerintahkan Abraham untuk pergi ke gunung Moria mempersembahkan Ishak anaknya. Ishak adalah anak perjanjian, anak yang ditunggu-tunggu Abraham dan Sarah. Abraham menerimanya setelah umurnya 100 tahun dan Sarah 90 tahun. Ishak adalah anak mujizat. Tetapi kalau kita baca seluruh pasal 22 Abraham tidak pernah tawar menawar dengan Tuhan. Waktu Tuhan perintahkan korbankan anakmu Ishak untuk Aku, Abraham langsung membawanya ke gunung Moria. Ketika Abraham mengikat Ishak di gunung Moria untuk kemudian disembelih, Ishak tidak berontak, Ishak tidak protes kepada Abraham bapanya. Abraham dan Ishak adalah dua sosok dalam Alkitab yang dapat menjadi teladan bagi orang percaya dalam mentaati Firman. Dengan perasaan yang tersayat-sayat Abraham mengikat anaknya dan meletakkannya di atas mezbah. Ketaatan Abraham kepada Tuhan adalah di atas logika dan perasaannya. Ketika Abraham menghunus pisau untuk menyembelih Ishak anaknya, Malaikat Tuhan bersuara : “Abraham, Abraham…..jangan kau bunuh anak itu dan jangan kau apa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa Engkau takut akan Allah…” (ayat 11,12). Perintah Tuhan kepada Abraham adalah ujian. Firman Tuhan yang datang kepada kita bisa sebagai santapan rohani, sebagai berkat, sebagai suara Tuhan, tetapi sering tanpa kita sadari, Firman itu datang sebagai ujian bagi kita.
“…..telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku” (ayat 12,16). Kata “tidak segan-segan” dalam bahasa Inggris digunakan kata “Withheld” artinya tidak menahan. Tuhan puji Abraham. Abraham tidak menahan anaknya ketika Tuhan suruh dikorbankan. Karena Abraham taat kepada Firman Tuhan maka sekarang bukan Ishak yang dikorbankan, tetapi Tuhan menyediakan domba untuk dipersembahkan ganti anaknya. Kemudian Abraham mengatakan dalam bahasa Ibrani “Yahweh Jireh”. Jadi Tuhan hanya mau menguji Abraham dan ternyata Abraham lulus.
Peristiwa ini merupakan suatu pelajaran yang indah bagi kita. Alkitab mengajar kita agar jangan menahan-nahan kalau Tuhan minta sesuatu dari kita. Mungkin kita berpikir nanti untuk anak atau cucu kita, atau ada lagi alasan lain. Tetapi Abraham walaupun berat, walaupun sakit, walaupun hatinya hancur, tetapi karena dia berikan apa yang Tuhan minta, Tuhan menggantinya bahkan Tuhan menambahkan kepada Abraham berkat yang berlimpah-limpah (ayat 17-18). Apakah Tuhan pernah berfirman kepada Anda atau Tuhan gerakkan di hatimu untuk mempersembahkan sejumlah uang untuk pekerjaan Tuhan, untuk perenovasian gedung gereja kita, atau rumahmu, atau mobilmu, atau Tuhan katakan persembahkan karirmu, persembahkan waktumu, talentamu, jangan saudara tahan, saudara akan kehilangan banyak berkat kalau saudara tahan. Tuhan akan memberkati kita dengan limpahnya apabila kita mau rela memberikan apa yang Tuhan minta.
Amsal 3:27-28. Alkitab juga mengajar kita untuk tidak menahan memberi berkat kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Apakah orang itu hamba Tuhan, yatim piatu, orang miskin, orang yang berkekurangan, dlsb. Kalau kita punya kemampuan untuk memberi, jangan menahannya. Orang yang memberi diberi kelimpahan tetapi orang yang menahan akan dikutuk. Amsal 11:24-26.| BACA JUGA INI : |