AMOS 4:7-8.
Alkitab berkata bahwa otoritas hujan ada pada Tuhan. Tuhan bisa mengirim hujan di satu kota dan tidak hujan di kota lainnya. Setiap KKR di lapangan terbuka panitia biasanya berdoa banyak supaya selama KKR jangan turun hujan. Dan seringkali terjadi bahwa Tuhan menahan hujan untuk tidak turun atau dibelokkan ke tempat lain. Sebaliknya kalau ada musim kemarau di satu daerah, seharusnya anak-anak Tuhan di tempat itu berdoa dan berpuasa supaya Tuhan kirimkan hujan. Keliru besar kalau ada orang Kristen memanggil pawang hujan supaya turun hujan. Otoritas hujan bukan pada Iblis atau orang kuat. Otoritas hujan ada pada Tuhan Yesus.
Kisah Para Rasul 17:25-26. Tuhan juga menentukan musim-musim dan batas bangsa-bangsa/negara-negara. Sekarang ini musim-musim sulit diprediksi manusia. Seharusnya musim kemarau malah jadi musim hujan, mustinya musim hujan tetapi yang jadi musim kemarau. Ingat, Tuhan yang menentukan musim-musim.
Mungkin kita bertanya kenapa pulau Kalimantan bagian utara tidak termasuk negara Indonesia tetapi masuk negara Malaysia atau kenapa pulau Irian sebagian Indonesia dan sebagian lagi negara lain. Jawabnya : Tuhan yang tetapkan batas-batas bangsa-bangsa.
Ada 3 jenis hujan dalam Alkitab :
1. Hujan Alamiah.
Kejadian 8:22. “Selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam”.
Selama bumi masih ada, berlaku satu ketentuan dari Tuhan bahwa secara alamiah akan ada musim menabur dan menuai, dingin dan panas, musim kemarau dan hujan, siang dan malam. Di alam kita ini siklusnya ada waktu hujan, ada waktu kering. Kita perlu hujan tapi kalau terus jadi banjir. Kita perlu panas tapi kalau kemarau panjang kita susah.
2. Hujan
Berkat Yehezkiel 34:26 “…..Aku akan menurunkan hujan pada waktunya ; itu adalah hujan yang membawa berkat”. Mungkin kita sering mengalami berkat-berkat tetapi belum hujan berkat. Hujan berarti datang dalam jumlah yang besar. Saya yakin bahwa semua jemaat GPdI Maranatha sudah menerima berkat Tuhan tetapi mungkin belum semua mengalami hujan berkat.
Menurut kitab Amos ada tiga hal yang perlu kita perhatikan untuk menerima hujan berkat :
a. Amos 4:6-11 Bertobat
b. Amos 4:19 Siap bertemu dengan Tuhan. Setiap saat Tuhan siap ditemui, tetapi apakah setiap saat kita siap bertemu Tuhan.
c. Amos 5:5-6. Mencari Tuhan.. Mencari artinya ada usaha, bukan hanya rutin.
3. Hujan Rohani.
Yoel 2:23, 28. Hujan ini adalah hujan rohani, di mana Roh Kudus bekerja secara luar biasa dalam pribadi, dalam keluarga dan di dalam jemaat.
Tahun 1996, di jemaat kita pernah terjadi satu kebangunan rohani yang luar biasa melalui pelayanan hamba-hamba Tuhan dari Australia, yang mengalami lawatan kebangunan rohani di kota Toronto, Kanada. Waktu itu semua jemaat dilawat dengan luar biasa oleh Roh Kudus. Ada jemaat yang tertawa dalam Roh, ada yang menangis, ada yang mendapat penglihatan termasuk anak-anak.
Pada ibadah-ibadah 10 malam menjelang hari Pentakosta juga kita secara khusus mengalami hujan Roh Kudus.
Kita perlu hujan rohani yang terus menerus yang sanggup merubah kekeringan rohani kita menjadi segar. Dan saya percaya dalam setiap Ibadah, kalau kita menyembah Tuhan dengan sungguh-sungguh, maka hujan rohani itu bisa turun. Kita perlu hujan kepenuhan Roh Kudus juga pada Ibadah raya hari ini. Siapa belum penuh Roh Kudus, minta dengan iman.
Zakharia 10:1 “Mintalah hujan daripada Tuhan pada akhir musim semi! Tuhanlah yang membuat awan-awan pembawa hujan deras, dan hujan lebat akan diberikanNya kepada mereka dan tumbuh-tumbuhan di padang kepada setiap orang”.
Tuhan adalah SUMBER HUJAN. Oleh sebab itu kita musti bersatu dalam satu gerakan doa untuk hujan berkat dan hujan Roh.
I Raja 18:20-46. Selama 3 ½ tahun tidak turun hujan di Israel. Mata-mata air dan sungai-sungai telah kering. Sebab itu nabi Elia mengumpulkan bangsa itu di gunung Karmel untuk meminta hujan. Ada beberapa hal yang dilakukan oleh Elia dan yang perlu kita perhatikan waktu meminta hujan :
- Memperbaiki mezbah. (ayat 30). Mezbah adalah tempat untuk mempersembahkan korban kepada Tuhan. Mezbah adalah gambaran dari DOA, IBADAH, KORBAN, PUJIAN PENYEMBAHAN. Apakah kita selalu berdoa kepada Tuhan. Apakah kita masih rajin beribadah, berkorban. Apakah kita masih menaikkan pujian dan sembahan di segala keadaan dan situasi. Mezbah kita harus diperbaiki terlebih dahulu.
- Mengambil 12 batu (ayat 31). Angka 12 adalah angka pemerintahan Illahi. Di dalam kehidupan kita harus ditegakkan pemerintahan Illahi, kepemimpinan Tuhan. Roh Kudus musti memimpin kita.
- Memenuhi empat buyung dengan air (ayat 34). Pada waktu itu harga air lebih mahal dari harga emas karena sulitnya mendapatkan air. Sudah 3 ½ tahun kemarau. Tetapi sebagian dari yang hadir di situ TAAT untuk bersatu gotong royong pergi mengambil air. Mungkin ada yang membawa satu gayung air atau hanya satu cangkir air, hingga penuh empat buyung. Lalu keempat buyung air itu dituangkan ke atas mezbah. Sebagian orang mungkin berkata ini sia-sia, ini pemborosan, karena air yang sangat langka. Tetapi kalau kita mau hujan rohani kita harus mau membayar harganya. Kita harus rela berkorban. Korban waktu, korban tenaga, korban uang, dlsb.
I Raja-raja 18:37-41 “…….pergilah, makanlah dan minumlah, sebab bunyi derau hujan sudah kedengaran (the sound of abundance of rain)”. Bunyi derau hujan berbicara dari bunyi hujan kelimpahan. Kalau kita sudah memperbaiki mezbah, dan Tuhan pemimpin hidup kita, serta rela berkorban untuk Tuhan maka akan terjadi hujan kelimpahan dalam hidup kita. Tuhan memberkati!| BACA JUGA INI : |