Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasehatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran. 2 Timotius 4:2
PLANET Bumi kita tahun 2006 sudah berpenduduk lebih dari 7 milyar manusia. Diperkirakan, 3 sampai 3½ milyar orang sudah mendengar berita Injil dan lebih dari 2½ milyar mengaku beragama Kristen.
Pada konperensi 100 tahun gerakan Pentakosta tahun lalu di Los Angeles dilaporkan bahwa umat Kristen Pentakosta dan Kharismatik di seluruh dunia sudah mencapai 600-700 juta orang.
Bagaimana dengan Indonesia? Tahun ini negeri kita sudah berpenghuni lebih dari 225 Juta. Berapa dari jumlah itu yang sudah pernah mendengar Firman, kita hanya bisa mengira-ngira. GPdI memiliki sekitar 11.000 sidang jemaat dengan keanggotaan 1½ sampai 2 juta. Umat Kristen : Protestan, Katolik, Pentakosta, Injili dan lain-lain mungkin sudah mencapai 12 persen dari jumlah penduduk negeri ini berarti lebih 26 juta. Tetapi berapa dari jumlah itu yang sungguh-sungguh menerima Yesus sebagai juruselamat pribadinya hanya Tuhan yang tahu persis.
Kita menghadapi Ladang Tuhan di Indonesia yang cukup besar, lebih dari 197 juta manusia. Jadi, amanat agung Tuhan Yesus dalam Matius 28:19-20, Markus 16:15-18, Kisah 1:8 masih perlu langkah-langkah implementasinya yang lebih proaktif dan signifikan. Tetapi kita semua mengetahui kendalanya sangat besar dan berat.
Yesus sendiri sudah mengingatkan : Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu. (Yohanes 15:19). Jadi, kalau ada rintangan dan halangan dalam penginjilan kita jangan terkejut. Namun Yesus juga sudah mengantisipasi situasi ini dengan mengatakan bahwa Roh Kudus yang akan bergerak mendahului kita. Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman.(Yohanes 16:8).
Karena itu motor yang mendorong pelayanan penginjilan agar efektif dan signifikan tidak lain adalah peranan Roh Kudus yang dominan.
Tetapi kamu akan menerima kuasa kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Judea dan Samaria dan sampai ke ujung dunia. (Kisah Para Rasul 1:8). Firman hanya bisa sampai ke pelosok-pelosok Indonesia dan sampai ke ujung bumi, apabila jemaat diberdayakan oleh Roh Kudus.
Tidak selalu kondisi dan situasi menyenangkan untuk pemberitaan Injil. Bahkan lebih banyak kita hadapi keadaan yang represif dan kawasan resistensi tinggi. Namun, Firman Tuhan memberi arahan cukup jelas: Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya (2 Timotius 4:2). Kita wajib memberitakan Firman dalam situasi dan kondisi apapun. Bahkan boleh jadi para pelayan Injil harus dibelenggu, tetapi firman Allah tidak terbelenggu. (2 Timotius 2:9).
Masih banyak penginjilan kita terfokus pada KKR di dalam gedung gereja dengan hadirin yang kebanyakan sudah anggota gereja.
Sudah waktunya pelayanan penginjilan harus merekrut warga jemaat yang sudah penuh Roh Kudus. Mereka akan menyampaikan Injil dengan kontak-kontak pribadi, dengan melalui hubungan perorangan, menggunakan metoda ngerumpi, dengan cara mengobrol. Tidak selalu harus pendeta yang tampil, karena kalau pendeta yang muncul orang-orang sudah mulai bersikap menolak. Tetapi kalau warga jemaat, mereka akan lebih terbuka apalagi kalau dialog dimulai dengan bahasa daerah, bahasa gaul, obrolan-obrolan biasa. Tugas pendeta adalah memuridkan jemaat, agar jemaat memiliki kapasitas untuk pelayanan penginjilan.
Mereka yang tersebar itu menjelajah seluruh negeri itu sambil memberitakan Injil. (Kisah 8:4). Mereka disini, bukanlah para rasul, tetapi jemaat yang terkena aniaya. Tuhan izinkan aniaya datang agar warga jemaat keluar menginjil.
MENGINJIL dalam SIKON apapun!
Tuhan Yesus Kristus memberkati.
| BACA JUGA INI : |