Kisah PR 2 : 1 “Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat.”
Dalam ayat 2, 3 dan 4 kita membaca tentang satu pengalaman luar biasa yang dialami rasul-rasul dan orang percaya lainnya: adanya bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, munculnya lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka serta pengalaman berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain. Namun ketiga jenis pengalaman supranatural ini bersumber dari ayat pertama. Ayat pertama ini menjadi kunci untuk peristiwa dahsyat di ayat-ayat berikutnya.
Perenungan dan pendalaman ayat pertama ini
memberikan kesempatan kepada kita untuk menerima kuasa dan kemuliaan Allah. Dalam ayat ini kita temukan tentang sikap yang benar. Umumnya orang berkata bahwa sikap yang benar berangkat dari kepribadian atau karakter yang benar. Namun menurut saya, sikap yang benar berangkat dari kerohanian yang benar. Kerohanian yang benar melahirkan sikap yang benar. Dan sikap yang benar akan mendatangkan kemuliaan dari Tuhan. Kuasa dan kemuliaan Tuhan yang diterima rasul-rasul dan orang percaya lainnya berangkat dari sikap yang benar. Apakah sikap yang benar itu? SIKAP MENGHARGAI. Ada lima sikap yang benar saya temukan dalam ayat di atas : 1) Menghargai Tuhan. Sikap ini adalah sikap yang terutama dan paling utama dari seorang percaya. Sikap-sikap lainnya tidak mempunyai arti kalau tidak menghargai Tuhan. Sikap yang pertama ini merupakan kekuatan dari seluruh sikap lainnya. Dalam ayat satu di atas kita menemukan sekelompok orang percaya. Orang-orang percaya ini adalah orang-orang yang kita baca dalam Kisah 1:4. Dalam ayat ini ditunjukkan tentang adanya Firman atau perintah Tuhan, yaitu supaya orang percaya, para murid jangan meninggalkan Yerusalem, tetapi menantikan janji Bapa di Yerusalem. Kemudian ayat 12 menceritakan bahwa setelah Yesus naik ke sorga mereka kembali ke Yerusalem. Maka saya menyebutkan ini sebuah KETAATAN yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Itulah hidup orang percaya. Memang ada beberapa orang percaya memanipulasi kepercayaan dengan hidup tanpa ketaatan kepada Firman Tuhan. Tetapi Tuhan mahatahu atas segala-galanya. Ketaatan adalah fondasi kekristenan. Kehidupan Kristiani yang kuat tergantung dari besarnya ketaatannya kepada Firman dan kehendak Tuhan.Ada 3 jenis ketaatan. : 1) Ketaatan yang ditolak alias pemberontakan. Misalnya nabi Yunus. Yunus 1:1-4. Yunus diperintahkan Tuhan untuk memberitakan Injil di Niniwe tetapi ia turun ke Yafo dan bertolak ke Tarsis, jauh dari perintah Tuhan. Tetapi hanya sementara waktu saja ia menikmati akibat ketidaktaatannya. Setelah kapal berlayar maka Allah menurunkan angin keras yang mengakibatkan badai besar yang membuat kapal itu hampir-hampir hancur. Ingat, Allah tidak kompromi dengan ketidaktaatan. Jenis ketaatan yang kedua ialah ketaatan setengah hati. Contohnya adalah raja Saul. I Samuel 15:2-11. Tuhan menyuruh Saul untuk menumpas habis Amalek, menumpas seluruh penduduknya, seluruh ternaknya. Saul pergi melaksanakan perintah Tuhan. Tetapi sangat disayangkan, dalam pelaksanaannya Saul membiarkan hidup Agag, raja Amalek, serta membawa ternak-ternak yang tambun dan baik rupanya. Allah marah kepada Saul, kataNya : ”Aku menyesal, karena Aku telah menjadikan Saul raja, sebab ia telah berbalik dari pada Aku dan tidak melaksanakan firman-Ku.” I Sam 15:11. Allah tidak suka bekerjasama dengan orang yang ketaatannya setengah saja. Allah tidak mau lagi menyertai orang ini, tidak mau membela Saul. Kita tahu hukuman mengenaskan yang diterima Ananias dan Safira karena membawa persembahan setengah saja dan menyimpan sebagian lagi. Allah tidak suka dengan yang setengah hati. Baca. Kolose 3:23-24, Matius 22:37-39. Jenis ketaatan yang ketiga ialah ketaatan sepenuh hati. Nuh dan Abraham menjadi contoh orang yang mempunyai ketaatan dengan sepenuh hati. Ibrani 11:7. Nuh taat sepenuhnya kepada Tuhan ketika ia membangun bahtera. Nuh melakukan semuanya tepat seperti yang difirmankan Tuhan. Mulai dari ukuran bahtera sampai bahan-bahan pembuatan bahtera. Tidak ada yang dikurang dan ditambah. Karena ketaatannya itu, maka ia dan keluarganya diselamatkan dari air bah. Orang yang taat kepada Tuhan akan diselamatkan dari kesusahan, dari penderitaan, dari krisis ekonomi.Ibrani 11:8. Abraham juga taat sepenuhnya ketika ia dipanggil dari Ur-Kasdim untuk pergi ke tempat yang dia tidak tahu tempatnya. Dan karena ketaatan itu maka Tuhan memberikan janji berkat kepada Abraham.Ketaatan sepenuh hati selalu membawa keselamatan dan berkat. Jadi orang-orang percaya dalam Kisah 2:1 adalah orang-orang yang taat kepada Firman Tuhan. Namun mereka bukan hanya taat tetapi juga suka berdoa. Baca Kisah 1:14. Kita tentu tahu makna doa, kuasa dari doa, arti dari doa yang sangat besar kuasanya. Yang mustahil bisa menjadi mungkin kalau ada doa. Selain mempunyai ketaatan dan kesukaan berdoa, mereka juga mempunyai kesatuan hati. Kesatuan ini juga menjadi satu kekuatan rohani yang besar, di mana mereka saling mendukung, saling mendoakan, saling memberkati, saling melayani, saling menopang. Orang percaya yang menghargai Tuhan adalah orang-orang yang taat, orang-orang yang berdoa, dan orang yang membangun kesatuan yang kuat dan kokoh. 2) Menghargai waktu. Hari Pentakosta adalah waktu perayaan, waktu ibadah, waktunya melayani Tuhan dalam ibadah dan persekutuan. Hari Pentakosta berarti waktu memuji dan menyembah Tuhan. Hargailah waktu. Jangan menyia-nyiakan dan membuang-buang waktu. Orang yang menyia-nyiakan waktu mengalami kepahitan, penderitaan luar biasa. Perhatikan kisah memilukan dalam Lukas 16. Seorang kaya yang dalam hidupnya hanya memikirkan harta dan kemewahan, dan waktu meninggal, ia berada di tempat yang mengerikan. Kepada Abraham ia memohon setetes air tetapi tidak mendapatnya. Sudah terlambat waktunya mendapatkan air. Oleh sebab itu selagi ada waktu bagi kita untuk mendapatkan air Firman Allah, Air Kehidupan, jangan sia-siakan kesempatan baik ini. Efesus 5:16 - pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Orang yang tidak mempergunakan waktu akan menjadi korban kejahatan. Tetapi orang yang mempergunakan waktu akan melihat kemuliaan Tuhan turun atasnya. 3) Menghargai tempat. ”Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat.” Mereka mencari satu tempat untuk berkumpul. Mereka tidak mencari tempat sendiri-sendiri, melainkan sebuah tempat untuk bersekutu. Orang-orang ini mengerti betul peranan sebuah tempat untuk menerima berkat besar. Raja Daud berkata : ”Satu hal telah kuminta kepada TUHAN, itulah yang kuingini: diam di rumah TUHAN seumur hidupku, menyaksikan kemurahan TUHAN dan menikmati bait-Nya.” Mazmur 27:4. Daud adalah seorang raja yang mempunyai tempat yang nyaman, fasilitas yang mewah. Tetapi ia mengaku bahwa ada tempat yang lebih baik yaitu rumah Tuhan. Orang yang menghargai rumah Tuhan akan mencintai rumah Tuhan. Orang yang mencintai rumah Tuhan akan menjadikan rumah Tuhan menjadi rumah doa.. 4)Menghargai persekutuan. ”Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat.” Di sini, bentuk kegiatan untuk menunjukkan persekutuan adalah dengan berkumpul. Persekutuan itu artinya ibadah. Berkumpul adalah aktivitas gerejawi untuk beribadah. Hati-hati kalau anda mulai malas untuk berkumpul beribadah. Hargailah jam-jam ibadah, waktu-waktu berkumpul dengan saudara seiman. Bergabunglah dalam jemsel-jemsel, dalam wadah-wadah pelayanan, dan kegiatan ibadah lainnya.
5) Menghargai satu sama lain.
And when the day of Pentecost was fully come, they were all with one accord in one place. “One accord” artinya sehati, sepikir atau tidak ada perbedaan pikiran, perbedaan pendapat atau kesalahpahaman. Tidak ada konflik di antara mereka. Satu sama lain saling menghargai. 120 orang berkumpul pasti banyak perbedaannya, namun luar biasa, mereka bisa sehati dan sepikir. Berarti mereka saling menghormati dan menghargai satu dengan yang lain.
Kalau kita menghargai Tuhan, menghargai waktu, menghargai tempat, menghargai persekutuan dan bisa menghargai satu sama lainnya maka Tuhan akan bekerja di tengah-tengah kita. Hidup yang lama akan berubah menjadi baru. Yang lemah akan menjadi kuat. Yang kurang diberkati mendapat berkat melimpah. Diberkati dengan kuasa, dengan mujizat dan pertolongan Tuhan lainnya. Haleluyah!
Ringkasan Khotbah Pdt. FSH. Palit, Minggu 25 Mei 2008, (Ibadah Raya II)| BACA JUGA INI : |