MARKUS 10:46-52
Tuhan Yesus berkali-kali mengadakan mujizat di kota Yerikho. Pada zaman purbakala kota Yerikho terkenal sebagai kota perdagangan, dan kota ini sering disebut kota Palem atau kota Pohon Kurma.
Di pinggiran kota Yerikho ada seorang buta bernama Bartimeus, yang berprofesi sebagai pengemis legal. Ketika ia mendengar Yesus lewat, mulailah ia berseru. Banyak mujizat yang dicatat dalam kitab Injil dimulai dengan seseorang mendengar tentang Yesus. Waktu itu belum ada alat komunikasi canggih seperti sekarang ini, tetapi secara alami, dari mulut ke mulut berita tentang kuasa Yesus yang besar tersiar di mana-mana. Surat Roma berkata ; 'Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.' (Roma 10:17). Iman adalah satu unsur Illahi yang hanya bisa kita terima dari perkara-perkara yang Illahi terutama Firman Allah.
Kemungkinan besar jarak antara Bartimeus dengan Yesus ada sekitar 50 – 100 meter. Sehingga Bartimeus memanggil Yesus dengan berseru : 'Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku.' Ia berseru-seru sampai orang lain merasa terganggu. Tetapi walaupun Bartimeus mendapat teguran keras dari orang banyak, ia makin keras memanggil Yesus. Ketika seruannya tidak didengar, ia bertambah keras memanggil Yesus. Ada orang Kristen yang berhenti berdoa karena doanya tidak dikabulkan Tuhan, padahal mungkin ia hanya dua atau tiga kali saja mendoakannya. Bartimeus bukan berhenti, tetapi makin keras, makin kuat memanggil Yesus. Jangan malu berdoa dengan suara keras dan terus menerus.
Kemudian Yesus berhenti dan berkata ; 'Panggillah dia.” Yesus memanggil Bartimeus. Yesus juga memanggil/mengundang semua manusia. Zaman ini adalah zaman anugerah, di mana terbuka lebar kesempatan untuk menerima panggilan keselamatan dari Tuhan. Karena itu kita harus peka terhadap panggilan Tuhan. Kita beribadah bukan hanya sebagai rutunitas tetapi kita memenuhi panggilan Tuhan. Panggilan Tuhan selalu menyelamatkan, memulihkan dan memberikan kelegaan kepada kita. Matius 28:11.
Begitu mendengar panggilan Yesus, Bartimeus menanggalkan jubah pengemisnya (ayat 50). Zaman dulu, untuk bisa mengemis secara legal harus mendapat ijin serta mempunyai alasan yang kuat untuk bekerja sebagai pengemis, yaitu karena sakit atau cacad. Orang sehat tidak boleh mengemis. Dan yang mendapat ijin menjadi pengemis harus memakai jubah pengemis. Jubah ini menjadi identitas kepengemisannya dan sekaligus kebutaannya.
Respon pertama dari Bartimeus ketika dipanggil Yesus adalah menanggalkan jubahnya. Artinya, Bartimeus mempunyai iman bahwa sesuatu perubahan akan terjadi dengan dirinya, sehingga ia berani meninggalkan jubah profesinya tersebut. Jubah pengemis itu kotor, bau, tanda kelas paria. Kelas paria adalah golongan yang melarat, sampah masyarakat.
Pada kesempatan ini saya akan sampaikan pengertian tentang jubah manusia :
1. Jubah = kebenaran manusia. Yesaya 64:6 – “..segala kesalehan kami seperti kain kotor..” Terjemahan NKJV berbunyi : “our righteousnesses are like filthy rags.” (kebenaran kami seperti kain tua yang kotor dan robek). Kebenaran manusia seperti kain yang sudah usang, tua, robek dan kotor. Orang yang membanggakan kebenaran dirinya yang berkata : “saya tidak seperti bapak itu, saya tidak seperti ibu itu, saya lebih baik dari orang itu,” dlsb. Orang yang demikian berarti menonjolkan sesuatu yang kotor, robek dan bau. Iblis sering membangkit-bangkitkan kelebihan dalam diri kita dan membanding-bandingkannya terhadap orang lain. Itu berarti kita sudah memamerkan jubah pengemis. Orang yang miskin rohani selalu menonjolkan kebenaran manusia, keakuannya meraih kuasa Tuhan. Jangan pertahankan kebenaran manusia yang tidak benar.
2. Jubah = pakaian kebesaran jabatan (raja, pembesar, imam, dll.) Jubah yang dimaksud di sini adalah pakaian kehormatan. Jubah ini artinya kemuliaan manusia. Roma 3:23 menegaskan bahwa semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah. Tanpa terkecuali, semua manusia di kolong langit ini sudah berdosa dan tidak mulia lagi. “Kemuliaan manusia” hanya bersifat semu, sangat sementara, yakni seperti bunga rumput yang pagi mekar dan sore telah layu. Dosa menghasilkan sesuatu yang buruk di dunia ini ; korupsi, narkoba, terorisme, dll. Karena itu kita harus menangggalkan jubah kemuliaan manusia supaya kita tidak dapat meraih kemuliaan Tuhan.
3. Jubah = jubah ungu orang kaya, bermakna kemewahan manusia. Beberapa orang di Sumatera Timur mendapat gelar 'orang kaya', namun pada kenyataannya banyak dari mereka hidup miskin. Tetapi zaman dulu, kalau disebut orang kaya memang betul-betul kaya. (Lukas 16:19-23). Makan saja mengenakan jubah ungu yang mahal. Jubah ini berbicara tentang kemewahan manusia. Tetapi dalam kisah orang kaya dan Lazarus yang dicatat dalam Lukas 16:19-23 kita membaca bahwa orang kaya itu kemudian mati dan sengsara di alam maut selama-lamanya atau kekal. Selama hidupnya ia bermewah-mewah tetapi di alam maut ia menderita selama-lamanya. Di televisi kita saksikan, khususnya para selebriti menunjukkan kemewahan-kemewahan. Dunia sekarang memunculkan semua yang glamour, yang wah wah. Tetapi televisi ataupun internet tidak pernah menayangkan akibat dari dosa. Banyak media hanya menayangkan kenikmatan dari dosa tanpa memberitahukan upah dari dosa, yaitu kebinasaan. Karena itu tanggalkan jubah kemewahan manusia supaya kita memperoleh keselamatan kekal.
Ketika Bartimeus mendengar bahwa Yesus memanggilnya, ia langsung menanggalkan jubah pengemisnya, meninggalkan profesinya, lalu datang kepada Yesus. Inilah iman yang langsung 'in action'. Iman harus disertai dengan tindakan. Yakobus 4:8. Yesus mengetahui bahwa dalam diri Bartimeus ada iman yang bisa menarik kuasa Yesus. Yesus bertanya : “Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Bartimeus menjawab : “Rabuni, supaya aku dapat melihat”. Yesus berkata: “Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau”. Ternyata iman Bartimeus bukan saja berkuasa menyembuhkan, tetapi lebih dari itu, menyelamatkan. Iman bukan hanya untuk menerima pertolongan Tuhan di dunia, tetapi juga untuk memperoleh keselamatan yang kekal. Bartimeus menerima kesembuhan sekaligus hidup selama-lamanya.
Ada dua jubah yang Tuhan berikan kepada orang percaya ;
Jubah kebenaran. Yesaya 61 : 10. Jubah kebenaran dalam Alkitab terjemahan NKJV disebut “Garment of salvation” (jubah keselamatan). Tanggalkan jubah kita yang kotor, bau dan robek. Jangan senang mengenakan jubah yang lama. Kalau anda ingin meraih kemuliaan Tuhan, tanggalkan jubah kebenaran diri sendiri dan terima jubah kebenaran dan keselamatan dari Tuhan Yesus Kristus.
Jubah pujian. Yesaya 61:3. (nyanyian puji-pujian = “the garment of praise”). Orang yang datang kepada Yesus pasti akan mengalami tranformasi hidup, menerima pemulihan dari Tuhan. Orang Yahudi, apabila berduka selalu menaruh karung dan abu di kepalanya. Tetapi Tuhan berkata : kepala yang ditaruh karung abu, Tuhan gantikan dengan perhiasan. Kain kabung Tuhan ganti dengan minyak untuk pesta. Minyak untuk pesta bicara dari urapan Tuhan. Dan nyanyian puji-pujian ganti semangat yang pudar. Semangat kita yang lusuh, yang kendor, yang pudar, yang malas, Tuhan gantikan dengan jubah pujian. Kenapa? Karena kita punya tugas besar untuk memperlihatkan keagungan Yesus. Dengan pujian kita, dengan semangat kita, kita memperlihatkan keagungan Yesus.
Karena itu, tanggalkan jubah pengemis, kenakan jubah pujian dan jubah kebenaran, dan tunjukkanlah bahwa Tuhan kita besar dan luar biasa.
Ringkasan Khotbah Pdt. M.D. Wakkary, Minggu 26 April 2009 (Ibadah Raya II)| BACA JUGA INI : |