Matius 5:21.-211
Dalam kisah di atas kita membaca tentang seorang perempuan Kanaan yang membutuhkan mujizat besar dari Yesus. Kita semua tentu membutuhkan sesuatu dari Yesus. Umumnya hubungan kita dengan Tuhan terbangun karena kita membutuhkan sesuatu yang kita nyatakan dalam doa. Kita percaya, melalui iman kita Tuhan akan berbuat sesuatu. Tetapi apakah iman kita selalu siap untuk menerima mujizat yang besar.
Dalam sebuah perjalanan usai pelayanan di Banyuwangi, saya mendapat penglihatan dari Tuhan tentang dialog antara perempuan Kanaan dengan Yesus. Saya melihat dengan jelas bagaimana ekspresi perempuan itu datang kepada Yesus, penuh dengan cemas, kuatir dan penuh harap. Namun Yesus melihat bahwa iman perempuan ini belum siap menerima mujizat.
Iman itu seperti emas. Kadar iman itu muncul setelah diuji.
Itu sebabnya Tuhan mengijinkan perempuan ini melewati tiga ujian, dan setiap kita juga akan melalui ujian-ujian untuk menerima perkara yang besar :
Ujian diam/senyap. (ayat 23). “Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya.”
Perempuan ini berteriak minta tolong tetapi Yesus diam saja, bahkan membelakangi perempuan itu. Yesus tidak memberikan reaksi apapun. Hampir semua kita pernah mengalami pengalaman demikian, di mana doa-doa kita sepertiya Tuhan tidak dengar, sepertinya Tuhan mengabaikan saja. Tuhan Yesus menguji perempuan itu supaya imannya teguh.
Saya memulai pelayanan sekitar umur 16-17 tahun. Saya tahu bahwa saya membutuhkan pengurapan Roh Kudus. Saya membaca buku hamba-hamba Tuhan besar dalam sejarah gereja dan dalam Alkitab. Dari situ saya dapati bahwa setiap orang yang mempunyai pelayanan yang besar selalu dimulai dengan perjumpaan dengan Tuhan, dengan urapan Tuhan. Karena itu saya mengambil waktu berdoa dan berseru kepada Tuhan supaya Tuhan mencurahkan kuasaNya dalam diri saya. Saya berdoa kira-kira satu jam. Saat terakhir doa saya, saya berkata terimakasih untuk kuasaMu di dalam nama Tuhan Yesus. Tetapi ternyata, saat itu tidak terjadi apa-apa. Lalu saya pikir mungkin Tuhan sibuk. Besoknya saya ambil keputusan untuk berdoa lagi. Demikian terjadi dari hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan, tidak ada yang berubah dalam diri saya. Bahkan dalam doa pernah berkata kepada Tuhan : kalau Tuhan mau beri, silahkan beri, dan saya tidak mau menyerah. Setelah satu tahun saya tetap berdoa, ketika saya masuk ruang doa, tiba-tiba ada sesuatu yang lain terjadi dalam perut saya. Walaupun demikian saya tetap masuk ruang doa. Saya ambil gitar dan menyanyi lagu : “Kudatang dan sujud di kakiMu Tuhan, hadiratMu penuh sukacita.” Ketika saya menyebutkan kata hadiratMu, saat itu juga saya melihat sepertinya atap rumah itu dicabut dan kemuliaan Tuhan masuk ruangan. Saya merasakan sesuatu yang besar menjamah saya. Kemuliaan Tuhan memenuhi seluruh tubuh saya. Setelah satu tahun mengalami ujian kesunyian, akhirnya Tuhan menjawab doa saya. Ujian kesunyian sebenarnya hanya satu pengalaman untuk merendahkan diri. Kalau kita merendahkan diri dihadapan Tuhan maka Tuhan akan menolong kita. Perempuan Kanaan itu tidak menyerah, dan ia terus meminta.
Ujian Penolakan. (ayat 23). Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya: "Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita dengan berteriak-teriak."
Tuhan Yesus tidak pernah menolak perempuan itu, Yesus hanya diam saja. Dalam penglihatan, saya melihat ada dua murid Yesus yang memegang lengan perempuan ini dan berusaha menjauhkannya dari Yesus. Tetapi dengan segala usaha perempuan itu berusaha melepaskan diri dari cengkeraman kedua murid itu.
Roh penolakan ini juga bisa terjadi dalam gereja. Sebagian jemaat mungkin ada yang merasakan penolakan. Tetapi itu adalah ujian bagi kita, apakah anda mengasihi manusia atau melayani Tuhan.
Saya dipanggil Tuhan dari keluarga miskin. Sehingga ketika saya bersaksi bahwa saya mendapat visi kepada seluruh dunia, orang-orang mengejek saya dengan berkata : bagaimana mau penginjilan ke seluruh dunia, sedangkan beli baju saja tidak mampu. Tetapi mendengar tentang visi saya, Gembala saya selalu berkata Haleluyah, Puji Tuhan. Saya senang mendengar hal itu, berarti gembala sidang percaya akan visi yang saya terima. Kemudian saya bekerja keras di gereja : lap kursi, bersihkan toilet, dlsb. Namun suatu saat, gembala sedang ngobrol dengan dua orang penatua. Seorang penatua bertanya kepada gembala : bagaimana Bapak berpikir tentang Steven. Berketepatan saya berjalan di belakang pendeta. Tentu saya berharap bahwa Gembala memuji saya dan mengakui panggilan Tuhan kepada saya. Tetapi Gembala hanya berkata : tidak usah berpikir tentang Steven, ia hanya sedang bermimpi saja. Waktu mendengar itu hati saya hancur. Ternyata satu-satunya orang yang bisa saya percaya ternyata tidak mempercayai saya. Saya berpikir lebih baik tidak melayani Tuhan. Tetapi saat itu juga, Roh Kudus membisikkan saya dengan berkata bahwa Yusuf pun seorang pemimpi, dan saya terhibur. Saya bertekad untuk terus melayani. Perhatikan, sering orang-orang di sekitar malah mencoba menarik kita jauh dari Tuhan. Ini suatu ujian lagi. Tetapi kita menyerah. Jangan mau ditarik jauh dari Tuhan, tetapi dekatkanlah dirimu kepada FirmanNya.
Ujian Halangan Alasan-alasan (ayat 24,26). Jawab Yesus: "Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel...........Tetapi Yesus menjawab: "Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing."
Yesus menyampaikan dua alasan sehingga mujizat tidak bisa diterima perempuan itu. Sebenarnya begitu banyak alasan untuk kita tidak bisa atau terhalang menerima mujizat dari Tuhan. Mujizat adalah anugerah Tuhan yang kita bisa menerimanya setiap hari.
Perempuan Kanaan itu menjawab : Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.” Ketika Yesus melihat iman yang besar dari perempuan ini, Yesus berkata : "Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki." Dan seketika itu juga anaknya sembuh.
Yesus mempunyai banyak mujizat untuk kita, tetapi Ia terus menguji kita apakah iman kita sudah siap untuk menerimanya. Tuhan mempersiapkan mujizat yang besar bagi kita yang percaya. Dan iman yang lulus ujian pasti akan menerimanya. Tuhan memberkati!
Ringkasan Khotbah Rev. Steven Nicaud (Singapore), Minggu 2 Agustus 2009
| BACA JUGA INI : |