Amsal 23:6-7
“Jangan makan roti orang yang kikir, jangan ingin akan makanannya yang lezat. Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia. "Silakan makan dan minum," katanya kepadamu, tetapi ia tidak tulus hati terhadapmu. “
Konteks ayat ini berbicara tentang kekayaan dan makanan. Namun bukan soal makanannya tetapi orang yang memberi makanan itu yaitu orang kikir. Firman Tuhan berkata jangan mengingini makanan lezat orang kikir. Orang pelit tidak pernah ingin berbagi, selalu mementingkan diri sendiri. Walaupun ia mempersilahkan orang lain makan tetapi dalam hatinya ia menggerutu. Buktinya dalam ayat 7 – “Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia....” Dalam terjemahan NKJV berbunyi “For as he thinks in his heart, so is he” artinya apa yang dipikirkan di hatinya demikianlah ia. Dalam terjemahan NIV berkata “For he is the kind of a man who is always thinking about the cost”. (NIV) – orang yang selalu memikirkan untung-rugi (cost). Pola pikir seseorang tidak dapat disembunyikan sebab kemudian akan nampak dari sikapnya. Pola pikir orang kikir bukanlah pola pikir yang dikehendaki Tuhan.
Kalau kita mau mengalami pertolongan Tuhan, kita musti ubah pola pikir kita. Coba simak dua contoh dalam Alkitab tentang pola pikir.
Pertama, dalam Matius 19:16-22. Seorang pemuda kaya datang kepada Yesus dan bertanya tentang perbuatan baik apakah yang harus diperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal? Banyak paradigma manusia membenarkan bahwa untuk memperoleh keselamatan adalah dengan berbuat kebaikan. Dengan banyak berbuat amal maka dosa-dosa akan tertutupi. Tetapi Alkitab dengan tegas berkata bahwa keselamatan adalah anugerah Tuhan, bukan karena perbuatan, bukan oleh amal. Anak muda itu juga mengaku bahwa ia sudah melakukan hukum Taurat. Tetapi hukum Taurat tidak bisa menyelamatkan. Hukum Taurat diberikan kepada bangsa Israel untuk melatih mereka sampai kepada Yesus. Keselamatan tidak bisa diperoleh dengan hukum Taurat, tetapi oleh anugrah di dalam Yesus Kristus. Pemuda itu bangga karena sudah melakukan perbuatan baik melalui hukum Taurat. Terakhir, Yesus menyuruhnya untuk menjual hartanya, tetapi ia menjadi sedih lalu meninggalkan Yesus. Ia berhasil melaksanakan hukum Taurat tetapi kecintaanya kepada hartanya mengalahkan kasih dan ketaatan kepada Tuhan. Walaupun ia percaya kepada Tuhan tetapi sebenarnya bukan Tuhan nomor satu dalam hidupnya. Sentral pemikirannya hanya kepada harta dan kekayaan. Pemuda itu gagal ikut Yesus, gagal mencapai keselamatan hanya karena pola pikirnya. Pola pikirnya berkata bahwa cukup melakukan perintah agama saja kita bisa selamat. Itu salah. Yang terutama adalah mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan pikiran, bukan sekedar melakukan perbuatan baik.
Kita seringkali gagal mencapai janji Tuhan karena pola pikir yang belum berubah. Pemuda itu adalah seorang beragama, melaksanakan hukum taurat, tetapi yang terutama ia abaikan. Pola pikir yang menempatkan Tuhan bukan nomor satu dalam hidup membuat kita gagal mendapatkan Yesus, mencapai keselamatan dan gagal mencapai berkat-berkat Tuhan.
Kedua, 2 Raja-raja 5:10-14. Naaman adalah seorang jenderal besar kerajaan Aram. Tetapi di balik kebesarannya, Naaman menderita sakit kusta, satu penyakit yang memalukan. Melalui seorang perempuan Israel yang menjadi pembantu istrinya, ia mendapat informasi bahwa di Israel ada nabi besar bernama Elisa yang sanggup menyembuhkan penyakitnya.
Ketika Elisa mengetahui kedatangan Naaman, ia menyuruh pelayannya untuk menyampaikan kepada Naaman supaya pergi ke sungai Yordan dan membenamkan tubuhnya sebanyak tujuh kali. Mendengar itu Naaman panas hati, sebab pikirnya nabi Elisa akan menemuinya dan menggerak-gerakkan tangannya di atas tubuhnya lalu penyakitnya sembuh. Pola pikir Naaman masih dipengaruhi okultisme atau perdukunan. Si dukun biasa berkomat-kamit dan menggerakkan-gerakkan tangan untuk menyembuhkan orang. Tuhan bekerja bukan mengikuti pola pikir manusia. Allah punya cara yang khusus, khas dan unik untuk menolong kita. Pola pikir Naaman juga masih dipengaruhi oleh fakta-fakta duniawi. Sebab ketika disuruh untuk membenamkan diri di sungai Yordan, ia berkata bahwa ada sungai yang lebih baik atau lebih bersih dari sungai Yordan, yaitu sungai Abana dan Parpar di Damsyik. Ia berpikir bahwa tidak mungkin air kotor bisa membersihkan penyakit kusta di tubuhnya. Namun anak buahnya berkata bahwa membenamkan diri di sungai Yordan bukanlah hal yang sulit dilakukan demi kesembuhannya. Dorongan anak buahnya mampu mengubah pola pikir Naaman menjadi pola pikir iman. Ia pun pergi ke sungai Yordan dan membenamkan dirinya tujuh kali. Ketaatan penting untuk merubah pola pikir kita yang duniawi atau rasional, menjadi iman dan ketaatan kepada Tuhan. Setelah tubuhnya dicelup tujuh kali, kulitnya pulih seperti kulit anak-anak. Tidak akan terjadi mujizat kecuali kalau kita merubah pola pikir kita. Pekerjaan Tuhan bukan ilmu, bukan okultisme, tetapi perlu kerendahan hati dan ketaatan. Hasilnya Naaman sembuh dan percaya kepada Allah Israel. Setiap hari kita perlu membersihkan pikiran kita dari pengaruh-pengaruh keduniawian. Kita musti fokus kepada jaminan Firman Tuhan.
Bagaimana caranya kita merubah pola pikir kita untuk menerima berkat Tuhan.
1. Berpikir positif. Filipi 4:8
Pikiran kita perlu ditaklukkan kepada Kristus, supaya damai sejahtera Kristus ada dalam hidup kita. Damai sejahtera Tuhan membuat pola pikir kita selalu positif. Kita menghadapi persoalan keluarga, bisnis, usaha, semua dengan paradigma positif. Kalau pikiran kita selalu curiga kepada orang lain, sering takut, kuatir, ragu, ataupun gampang stres, berarti pola pikir kita perlu diubah. Pola pikir perlu ditaklukkan kepada Yesus sehingga menjadi benar dan mulia. Sekarang orang cenderung mau tahu semua berita negatif. Tetapi Alkitab berkata bahwa kita musti melatih diri kita untuk berpikir positif. Kalau kita berpikir positif maka kita akan selalu bersyukur kepada Tuhan sebab damai sejahtera Kristus ada di hati kita.
2. Belajar berpikir perkara rohani. Kolose 3:1-2
Setiap hari kita dibombardir oleh setiap peristiwa perkembangan keadaan dunia ini yang membuat pola pikir kita bisa terpengaruh. Akibatnya hati kita menjadi kesal, risau, bimbang dan takut. Tetapi Tuhan berkata pikirkanlah perkara-perkara yang di atas, yaitu di mana Kristus ada. Semua pola pikir kita harus bersentral kepada Kristus. Seseorang yang berlatih untuk berpikir perkara yang di atas tidak terlepas dari konteks Kristus. Karena itu usahakan baca Firman Tuhan, sebab dengan demikian kita melatih pikiran kita kepada Tuhan. Penyembahan kepada Tuhan menempatkan pikiran kita kepada Kristus.
Kalau pikiran anda terganggu oleh banyaknya masalah dan problema, sandarkan pikiranmu kepada Kristus, sebab bagi Tuhan selalu positif. Jangan sekali-kali berpikiran negatif akan hidupmu, dan mengecilkan dirimu sendiri. Kita adalah anak Tuhan maka Tuhan pasti memperhatikan dan memperdulikan kita dalam segala situasi dan keadaan. Berpikirlah positif bahwa kita adalah anak-anak Tuhan dan Bapa kita adalah Allah yang mahakuasa. I Yohanes 3:1. Tuhan memberkati
Ringkasan Khotbah Pdt. M.D. Wakkary, Minggu, 10 Oktober 2010 (Ibadah Raya I GPdI Maranatha)
| BACA JUGA INI : |