Matius 5:13-16
Dalam ayat-ayat di atas Yesus mengajar tentang kehidupan orang-orang percaya. Ada tiga hal penting yang kita petik dari pengajaran ini :
1. Hidup sebagai garam. Jelas dan tegas sekali Yesus mengatakan bahwa kamu/orang percaya adalah garam dunia. Kemudian Yesus menjelaskan tentang akibat buruk apabila garam menjadi tawar. Pertama, tidak berguna. Garam itu tinggal sebuah nama tetapi tidak punya fungsi sebagai garam. Jangan-jangan garam itu bukan memberi rasa asin tetapi rasa asam. Orang percaya kalau sudah tawar maka ia tidak berguna lagi di hadapan Tuhan. Kedua, dibuang orang. Sesuatu yang tidak berguna tidak mungkin disimpan atau dipelihara melainkan dibuang atau disingkirkan. Ketiga, diinjak orang. Seringkali kita membuang sesuatu tetapi belum tentu menginjaknya. Tetapi garam yang tawar akan diinjak-injak orang. Hal ini saya hubungkan dengan Wahyu 11 yang mencatat bahwa orang-orang yang tidak masuk dalam ukuran Bait Allah akan diinjak-injak selama 1260 hari atau 3½ tahun. Masa ini kita kenal dengan istilah aniaya besar 3½ tahun. Yang termasuk ke dalam ukuran Bait Allah adalah orang yang memiliki perkakas-perkakas Bait Allah seperti kaki dian (Roh Kudus), meja roti (Firman) dan mezbah dupa (doa dan pujian penyembahan).
Karena itu saya menyampaikan 2 pokok yang sangat prinsip berhubungan dengan orang percaya sebagai garam ;
· Hidup sebagai garam adalah garam yang menggarami. Garam yang menggarami adalah garam yang hidup sesuai dengan hakekatnya. Garam yang tersimpan tanpa pernah digunakan adalah garam yang tidak menggarami. Seasin-asinnya sebuah garam kalau hanya tersimpan maka fungsinya tidak bisa dirasakan orang. Garam yang menggarami adalah hidup yang dipakai menurut kehendak Tuhan, yang menjalankan fungsinya sebagai anak Tuhan.
Karena itu, garam yang menggarami bicara tentang ketaatan. Ia taati kehendak Tuhan dalam dirinya. Ketaatan kita sangat dihargai Tuhan. Ketaatan akan dipahalai dengan mahkota kehidupan (Wahyu 11:2), dengan mahkota kemuliaan (1 Petrus 5:4), dan dengan mahkota kebenaran (2 Timotius 4:8). Ketaatan mendekatkan kita dengan kemuliaan sorgawi.
· Hidup sebagai garam adalah garam yang tetap asin. Kapan dan di mana pun garam tetap asin. Kebenaran dari garam yang tetap asin adalah kesetiaan. Stefanus, hanyalah seorang diaken yang dipilih dan diangkat oleh rasul-rasul. Karena Injil, Stefanus dihujat dan dilempari dengan batu. Tetapi dalam keadaan yang mengenaskan, Stefanus berdoa: “Tuhan jangan tanggungkan dosa ini kepada orang-orang ini sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Meskipun dalam keadaan babak belur, Stefanus tidak tawar hati. Ia setia sampai mati dan hidup dalam kasih yaitu melepaskan pengampunan.
2. Hidup sebagai terang. Hidup sebagai terang dijelaskan dalam 3 kebenaran dasar ;
· Terang yang kelihatan (ayat 14). Terang itu kelihatan, bisa dilihat orang. Hanya orang yang gelap yang suka bersembunyi. Orang yang hidup dalam terang akan kelihatan oleh siapa pun. Saya mengartikan ini dengan kejujuran. Hidup dalam kejujuran mempunyai kekuatan rohani menjadi berkat bagi orang dan kemuliaan bagi Tuhan.
· Terang itu di tempat yan benar. “..pelita di atas kaki kaki dian”. Buku Mazmur dibuka dengan ayat ; “Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh.” Orang yang hidup dalam terang, yang suka merenungkan Firman Tuhan akan seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.
· Terang dalam bentuk/wujud yang baik (ayat 16). Terang bukan sekedar konsep, tetapi sebuah kenyataan/wujud. Terang itu adalah perbuatan baik. Perbuatan baik merupakan manifestasi dari pemahaman dan keyakinan kepercayaan kita. Perbuatan baik datang dari iman yang benar. Perbuatan kita baik kalau iman kita baik.
3. Hidup yang menyingkirkan rintangan-rintangan. Untuk menjadi garam dan terang ada rintangan-rintangan. Tetapi segala rintangan musti kita singkirkan. Ada 4 rintangan yang perlu disingkirkan jika kita mau menjadi garam dan menjadi terang.
· Rintangan sakit hati. Orang yang sakit hati tidak bisa menjadi garam yang benar, tidak bisa melayani dengan benar, tidak bisa memuji Tuhan dengan benar. Markus 9:50 menulis bahwa menjadi garam kita harus selalu berdamai dengan semua orang. Garam itu sama dengan damai. Garam yang tawar sama dengan hati yang tidak damai atau sakit. Dalam Kejadian 13 kita membaca bahwa untuk menciptakan perdamaian, Abraham rela mengalah kepada Lot, meskipun Lot adalah keponakannya. Abraham lebih mencintai kedamaian. Dalam Kejadian 45 juga kita membaca bagaimana Yusuf tidak membalas kejahatan saudara-saudaranya, meskipun ia sudah menjadi raja muda di Mesir.
· Gantang à Kekuatiran. Salah satu yang menutupi terang adalah gantang. Matius 5:15. Gantang adalah alat pengukur gandum. Gantang saya artikan dengan kekuatiran ekonomi. Seringkali kita kuatir akan apa yang akan kita makan, minum, pakai. Karena itu singkirkanlah kekuatiran hidup khususnya soal ekonomi supaya kita bisa menjadi terang.
· Tempayan à Kebiasaan yang tidak menguntungkan. Lukas 8:16. Belajar dari Yohanes 2:6, Yohanes 4:28 saya artikan bahwa tempayan adalah gambaran dari kebiasaan yang tidak menguntungkan. Tetapi tidak ada kebiasaan yang tidak bisa diubah. Singkirkan segala kebiasaan yang tidak ada untungnya supaya terang kita bercahaya.
· Tempat Tidur à Kemalasan. Lukas 8:16. Tempat tidur saya gambarkan dengan kemalasan. Orang yang suka tidur saja adalah orang malas. Namun kemalasan bisa diubah dan diperbaiki.
Biarlah kita semua menjadi garam yang menggarami dan terang yang kelihatan serta menyingkirkan semua rintangan yang merintangi kita untuk lebih maju di dalam Tuhan. Tuhan Yesus memberkati kita.
Ringkasan Khotbah Pdt. FSH. Palit, Minggu 25 September 2011 (Ibadah Raya II)
| BACA JUGA INI : |