IBRANI 11:1-6
Sudah hampir 20 tahun sidang yang saya gembalakan bernama House of Faith (Rumah Iman). Bahkan ayat Ibrani 11:1-6 selalu tercatat dalam buletin mingguan. Ini yang saya bagikan bagi kita semua.
“Iman adalah dasar dari segala sesuatu....” Dasar kehidupan orang percaya adalah iman. Dalam seluruh aspek kehidupan kita, iman atau kepercayaan harus menjadi dasarnya. Itu sebbanya dalam Ibrani 11:6 dikatakan bahwa tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Segala sesuatu yang kita lakukan harus didasari oleh keyakinan kepada Tuhan. Kunci keberhasilan kita adalah karena iman.
“...dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan...” Ini juga berbicara tentang visi atau mimpi. Saya datang dari Los Angeles menumpangi pesawat Airbus 380. Pesawat ini besar, dua tingkat, bisa menampung sekitar 600-800 penumpang. Namun pembuatan pesawat ini lahir dari sebuah mimpi. Sebelumnya, beberapa perusahaan pesawat terbang menolak bekerjasama dengan pihak Airbush untuk pembuatan pesawat dengan kapasitas penumpang 600-800 orang. Menurut mereka itu sebuah proyek yang tidak mungkin terjadi. Sebab rata-rata pesawat hanya bisa menampung sekitar 300-400 orang. Namun pada akhirnya perusahaan Airbus berhasil membuat pesawat ini dan terbang perdana tahun 2005.
Saya juga percaya bahwa gedung GPdI Maranatha yang besar ini lahir dari sebuah mimpi. Sehingga berdiri di kota Medan sebuah gedung gereja megah yang bisa menampung ribuan orang.
Umumnya sebuah mimpi tidak masuk akal dan tidak mungkin terjadi. Tetapi karena Tuhan, maka apa yang tidak mungkin menjadi mungkin bagi manusia.
Di Los Angeles berdiri sebuah gereja megah Kristen Katedral (Christian Cathedral) yang digembalakan Rev. Robert Schuller. Sebelumnya beliau mendapat mimpi untuk membangun sebuah gereja yang semuanya terbuat dari kaca, yaitu dinding dan atapnya kaca. Hampir semua arsitek mengatakan bahwa itu mustahil terjadi. Sebab sebuah gedung harus mempunyai penopang yang kuat. Namun seorang arsitek merasa tertantang, kemudian ia design dan buat maketnya. Akhirnya gedung gereja itu berdiri dengan megah dan merupakan satu-satunya gereja di dunia yang terbuat dari kaca. Gereja ini merupakan satu-satunya gereja di Amerika yang direkomendasikan pemerintah untuk dikunjungi pada turis.
Jadi kita semua harus mempunyai mimpi atau cita-cita. Kita harus berani bermimpi besar, berpikir besar dan bertindak besar karena kita mempunyai Allah yang besar.
Ketika kami memulai pelayanan di Los Angeles tahun 1992, anggota jemaat hanya sekitar 40 orang. Kemudian sebagai gembala, saya mendapat visi untuk memiliki gedung gereja milik sendiri. Ketika hal ini saya sampaikan kepada jemaat, banyak di antara mereka yang pesimis. Dengan alasan bahwa gaji mereka hanya USD 4,5 /jam. Tidak mungkin mampu membeli gedung yang harganya ratusan ribu dolar. Tetapi saya percaya bagi Tuhan tidak ada yang mustahil. Puji Tuhan! Tahun 1996 kami berhasil membeli sebuah gedung gereja.
Karena itu, mulailah bermimpi. Pikirkan perkara-perkara yang besar. Karena kalau kita mengimpikan sesuatu yang besar, Firman Tuhan berkata jadilah menurut imanmu. Kalau anda berpikir besar maka anda akan mendapatkan perkara-perkara besar. Anda beriman kecil anda mendapat yang kecil-kecilan. Jangan puas hanya menjadi ‘lilin-lilin’ yang kecil. Berdoalah supaya Tuhan menjadikan kita menjadi orang yang besar dan luarbiasa.
“.....bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat”. Iman, visi, mimpi merupakan bukti dari sesuatu yang belum kita lihat. Karena itu, meyakinkan oranglain tentang mimpi tidak gampang, sebab belum terwujud. Baca Kejadian 37:6-8. Ketika Yusuf menceritakan mimpinya kepada saudara-saudaranya, mereka malah membenci Yusuf. Hambatan terbesar dari mimpi-mimpi kita adalah orang yang paling dekat dengan kita. Tetapi jangan berhenti bermimpi meskipun sekeliling Anda tidak mendukung. Dalam Kejadian 42:6 kita baca tentang kenyataan dari mimpi Yusuf sebelumnya. Sebagai orang yang beriman kepada Tuhan, kita pasti ditolong Tuhan untuk menyatakan setiap mimpi-mimpi kita.
Roma 4:17-19. Abraham tetap percaya kepada janji Tuhan, meskipun tidak ada dasar untuk berharap. Secara jasmani, tidak mungkin Sarah dan Abraham mempunyai anak sebab mereka sudah tua dan lanjut usia. Hal ini bisa kita alami dalam hidup sehari-hari, di mana pintu seolah-olah tertutup. Tetapi Tuhan berkuasa untuk membukakan segala pintu-pintu yang tertutup.
Dulu, setiap bulan kami harus bayar cicilan pembelian gedung gereja. Tetapi suatu hari saya berdoa kepada Tuhan supaya gedung gereja itu lunas, tidak mencicil lagi. Sepertinya itu mustahil, sebab jumlahnya sangat besar. Tetapi suatu hari, salah seorang penatua jemaat datang kepada saya dan menyampaikan tentang persembahan mereka yang jumlahnya persis untuk membayar lunas gereja itu. Kalau kita beriman dan berharap kepada Tuhan, tidak ada yang mustahil. Segala sesuatu bisa terjadi. Kita hanya perlu menempatkan Tuhan di atas segala-galanya dari seluruh keberadaan kita.
Kita tentu mengetahui kisah hidup Ayub. Bagaimana dalam satu hari seluruh harta dan anak-anaknya lenyap. Bahkan dalam situasi sulit itu, istrinya menjadi perongrong baginya. Tetapi sekalipun dalam keadaan berat, Ayub tidak berdosa di hadapan Tuhan. Dia hadapi semua tantangan bersama Tuhan. Seringkali kita percaya kepada Tuhan, tetapi ketika masalah datang, kita mulai melihat keterbatasan kita. Allah kita adalah Allah yang tidak terbatas. Setelah penderitaan yang berat itu hidup Ayub dipulihkan. Ayub 42:12. Harta Ayub dua kali lipat dari sebelumnya. Anak-anaknya menjadi orang yang paling ganteng dan paling cantik waktu itu. Untuk melihat kuasa Tuhan, iman kita harus melalui tantangan. Dan Tuhan pasti memberikan yang terbaik kepada kita.
Karena itu berimanlah kepada Tuhan, yakinlah kepada kuasa Tuhan yang besar. Tuhan pasti menolong setiap orang yang percaya kepadaNya. Puji Tuhan!
Ringkasan Khotbah Pdt. Dr. Esrom Lempao (El Monte, USA), Minggu, 30 Oktober 2011 (Ibadah Raya II)
| BACA JUGA INI : |